Mengungkap Teka-teki Poligami Secara Genetik
Puteri Fatia - detikHot

Jakarta, Ternyata, faktor genetik juga ikut andil dalam terjadinya perselingkuhan dan poligami. Dipercaya, mayoritas mahluk hidup memang lahir dengan bawaan tersebut. Nah lho!

Demikian dilansir softpedia, Senin (11/12/2006) kebanyakan mahluk hidup memang tidak terbiasa hidup bermonogami. Secara genetik, mayoritas mahluk hidup pun tidak diprogram untuk hidup monogami alias hidup dengan satu partner saja. Bahkan, dari sekitar 5500 jenis mamalia hanya 3-5% yang dikenal bisa hidup monogami.

Walau demikian, hampir tidak ada jenis mahluk hidup yang mengenal monogami murni. Walau beberapa mahluk hidup selalu diciptakan untuk berpasangan, pada kenyataannya tetap saja mereka tetap mencari kesempatan untuk 'keluar jalur' sesekali.

Terutama untuk beberapa jenis binatang, sulit sekali bagi mereka untuk tetap setia pada satu pasangan saja. Pejantan umumnya terbiasa untuk menyebarkan benih dan betina umumnya selalu berusaha mencari gen terbaik dari pejantan terbaik.

Dengan monogami, berarti mahluk hidup hanya bisa 'mengiventasikan' gen-nya pada satu partner saja. Karena itu, mahluk hidup yang menerapkan sistem ini biasanya sulit dan membutuhkan waktu yang lama untuk memilih pasangan potensialnya.

Dalam kehidupan mahluk hidup secara umum, terdapat tiga jenis monogami. Pertama monogami seksual; hanya melakukan aktivitas seksual pada satu partner saja selama satu musim kawin. Kedua, monogami sosial; mahluk hidup mempunyai satu pasangan untuk berkembang biak, tapi tetap memiliki partner lain untuk bersosialisasi dan juga beraktivitas seksual. Ketiga, monogami genetik; hanya memiliki satu partner untuk bereproduksi.

Teorinya, sebagai salah satu jenis mahluk hidup, manusia biasanya melakukan monogami seksual dan sosial. Mahluk hidup jenis lain, jarang yang melakukan hal ini.

Hampir semua jenis burung umumnya menganut gaya hidup monogami sosial. Masing-masing memiliki pasangan, tapi tetap melakukan aktivitas seks dengan partner lain. Dalam sebuah penelitian, burung betina yang dipasangkan dengan pejantan yang telah disteril masih bisa tetap menghasilkan telur baru.

Burung merpati yang dianggap sebagai simbol kesetiaan saja masih bisa tidak setia, apalagi angsa yang kerap identik dengan simbol cinta. Spesies jenis ini juga kerap berselingkuh bahkan 'bercerai' dengan pasangannya.

Beberapa jenis mahluk hidup yang cukup setia dianggap punya dasar-dasar biologis dan sosial. Misalnya saja vole atau sejenis tikus. Vole pejantan akan setia pada betina yang diperawaninya. Jika betina lain mendekatinya, vole pejantan akan langsung menyerang.

Burung Nasar juga termasuk mahluk hidup yang setia. Alasannya karena pola reproduksi mereka. Pasangan burung Nasar bergantian mengerami telur mereka. Masing-masing bertugas selama 24 jam. Selama delapan bulan awal kelahiran bayi burung Nasar, ayah dan ibunya bergantian memberi makan. Karena itu ikatan pasangan pada burung Nasar cukup kuat.

Sama seperti berang-berang. Untuk mempertahankan kolam atau tempat mereka tinggal, berang-berang memerlukan kerjasama yang kuat dari betina dan pejantan. Karena itu, ikatan sosial pasangan berang-berang sangatlah kuat.

Intinya, monogami akan terjadi jika mahluk hidup merasa memerlukan situasi yang membuat pasangan harus tetap bersama. Dipercaya, manusia sejak dahulu hidup bermonogami karena membutuhkan komitmen dan kerjasama yang panjang untuk membesarkan keturunannya serta membangun keluarga. Tapi untuk kehidupan seksual binatang, monogami adalah sesuatu yang sangat membosankan. Jadi?(fta/dit)