Ayah, Jangan Khawatir Urus Bayi
(22 Jun 2006, 274 x , Komentar)

Para ayah kerap takut-takut menggendong apalagi bermain dengan buah hatinya. Padahal itu menghambat bonding (ikatan batin) dengan bayi. Dekat secara fisik membuahkan kedekatan secara batin. Berbahagialah para istri yang suaminya terlibat akrif dalam pengasuhan. Membantu menggantikan popok, mau meninabobokan, lebih-lebih bila aktif mengajak buah hatinya bermain. Sayangnya, 100 banding 1, yang melakukannya. Kebanyakan ayah masih takut-takut terlibat mengasuh bayi. Apalagi bila masih orok benar. Menggendong? Takut kecengklak ah! Memandikan, apalagi. Atau sekadar mengganti popok, bangun tengah malam membuatkan susu?

Merawat bayi tugas ibu. Anggapan demikian sudah kuno. Beberapa penelitian mutakhir justru menyebutkan, ayah yang terlibat aktif dalam perawatan lebih dini, sejak bayi baru dilahirkan, punya pengaruh besar pada bayi. Si kecil jadi lebih cerdas, lebih bahagia, dan otomatis kuat ikatannya dengan ayah. Artinya, Anda dan dia jadi dekat hubungannya sebagaimana dia dengan ibunda tercinta.

Buat istri pun punya pengaruh yang besar. Pasca melahirkan menjadi masa-masa meletihkan. Ditambah tugas baru harus merawat bayi yang umumnya tak kenal waktu, bisa melelahkan secara fisik dan mental. Tak jarang, kondisi tersebut membuat beberapa ibu mengalami tekanan (baby blues), yang membuatnya 'menolak' bayi. Bayangkan, bila ayah ikut terlibat, malam-malam mengganti popok bayi, menemani ibu menyusui, atau menemani dan bermain dengan bayi, akan menjadi sumbangan tak ternilai buat ibu. Tekanan berkurang, secara psikologis tenang dan bahagia, yang pada akhirnya membuat ibu lebih baik dalam merawat bayi, bahkan meningkatkan produksi air susu ibu sebagai makanan utama bayi.

Selain itu, menurut penelitian, para ayah yang dekat dengan buah hatinya, juga mendapat dampak positifnya. Di antaranya, akan lebih efektif mengatur waktunya. Keinginan bertemu buah hati membuat ayah bekerja lebih balk dan lebih efisien (akhirnya juga lebih sukses). Bahkan para ayah akan lebih terlibat di masyarakat dan dekat hubungannya dengan sanak keluarga. memperlihatkan atau mengenalkan putranya.

Meski mungkin Anda tahu manfaatnya, bukan berarti akan dapat membuat ayah mau merawat buah hatinya. Tetap saja, masih banyak ayah yang menyimpan kekhawatiran. Bagaimana kalau kugendong lalu terjadi apa-apa? Bagaimana biia saat bermain bayi jatuh? Lagian capek betul setelah seharian bekerja.

Kekhawatiran pasti akan menjadi kendala psikologis yang berat. Banyak orang yang tak berhasil keluar dari masalahnya lantaran terkungkung oleh kekhawatiran. Itu pun akan dialami ayah.

Apa yang Anda khawatirkan, sebenarya tak beralasan. Bayi meski kelihatan lemah tapi memiliki tulang yang lentur dan kuat. Gambarannya begini, ketika baru lahir dokter memeriksanya, di antaranya dengan mengangkat bayi dengan dipegang kepalanya, atau memegang terbalik tubuh bayi. Tak apa-apa kan nyatanya. Jadi Anda tak perlu khawatir.

Sumber : (int)