Pendahuluan - BUDIDAYA PEMBESARAN IKAN PATIN

 

Dengan luas perairan umum yang terdiri dari sungai, rawa, danau alam dan buatan yang hampir mendekati 13 juta ha, Indonesia mempunyai potensi alam yang sangat baik bagi pengembangan usaha budidaya perikanan air tawar. Ikan patin adalah salah satu ikan air tawar yang termasuk dalam famili pangasidae dan dikenal dengan nama lokal patin, jambal atau pangasius. Ikan patin merupakan ikan konsumsi, berbadan panjang berwarna putih perak dengan punggung berwarna kebiru-biruan. Daging ikan patin memiliki kandungan kalori dan protein yang cukup tinggi, rasa dagingnya khas, enak, lezat dan gurih. Ikan patin dinilai lebih aman untuk kesehatan karena kadar kolesterolnya rendah dibandingkan dengan daging ternak.

Ikan yang biasanya ditemukan di sungai-sungai besar ini jenisnya relatif banyak dan sampai saat ini dikenal sekitar 13 jenis. Dalam bahasa Inggris ikan patin populer sebagai catfish alias ikan kucing lantaran mempunyai "kumis". Jenis-jenis ikan patin menurut Khairuman, Amd dan Ir. Dodi Sudenda (Budi Daya Patin Secara Intensif, 2002) antara lain :

  1. Patin lokal dengan nama ilmiah Pangasius spp. Salah satu jenis populer yang berpeluang menjadi komoditas ekspor adalah patin jambal (Pangasius djambal Bleeker) yang hidup di sungai-sungai besar di Indonesia. Jenis lain adalah patin kunyit yang hidup di sungai-sungai besar di Riau.
  2. Pangasius polyuranodo (ikan juaro), Pangasius macronema (ikan rios, riu, lancang), Pangasius micronemus (wakal, rius caring), Pangasius nasutus (pedado) dan Pangasius nieuwenbuissii (ikan lawang) yang penyebarannya hanya di Kalimantan Timur.
  3. Patin bocourti yang terdapat di perairan umum di Vietnam dan merupakan komoditas ekspor ke Amerika Serikat, Eropa dan beberapa negara Asia.
  4. Patin siam dengan nama latin Pangasius hypopthalmus adalah patin bangkok atau lele bangkok lantaran asalnya dari Bangkok (Thailand)

Budidaya ikan patin lokal di Indonesia sudah mulai dirintis sejak tahun 1985, setelah Balai Penelitian Perikanan Air Tawar berhasil mengembangkan belum disebarluaskan kepada masyarakat. Sampai tahun 1991 produksi ikan patin diperoleh dengan cara penangkapan di perairan umum Sumatera dan Kalimantan dengan menggunakan peralatan tradisional seperti jaring, pancing, sero, bubu dan lain-lain. Dengan cara penangkapan tersebut, produksi ikan patin sangat terbatas. Disamping itu meningkatnya aktivitas pembangunan yang merusak lingkungan menyebabkan kualitas lingkungan perairan umum tidak selamanya dapat dipertahankan sehingga ikan patin terancam punah.

Sejak tahun 1992, Pemerintah mendorong masyarakat di Sumatera, Kalimantan dan Jawa untuk mengembangkan budidaya ikan patin siam yang induknya didatangkan dari Thailand. Sedangkan ikan patin djambal baru berhasil dipijahkan secara kawin buatan pada tahun 1997 dan pertama kali didomestikasikan pada bulan Mei 20001.

Budidaya pembesaran ikan patin dapat dilakukan dengan sistem kolam, sistem karamba/karamba jaring apung atau sistem fence. Pembesaran ikan patin di kolam dapat dilakukan secara monokultur atau polikultur. Pembesaran di karamba jaring apung dapat dilakukan secara monokultur atau bersama ikan lain seperti nila biasa, nila merah (gift) dalam jaring bertingkat, dimana tingkat atas adalah ikan patin dan tingkat bawah adalah ikan nila. Lokasi pemasangan karamba bisa di kolam, danau, waduk atau di pinggir sungai dengan kedalaman tertentu. Pembesaran dengan sistem fence dilakukan di pinggir sungai atau rawa dengan membuat pagar-pagar keliling yang ditanam di dasar sungai atau rawa dengan kedalaman tertentu. Perbedaan cara budidaya ini terkait dengan skala usaha.

Di provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), khususnya di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), ikan patin yang dibudidayakan oleh masyarakat sejak tahun 1994 adalah ikan patin siam sedangkan ikan patin lokal belum dibudidayakan. Potensi penggunaan sistem karamba terdapat baik di wilayah yang dilalui oleh sungai-sungai besar seperti sungai Ogan Komering dan sungai Kelekar maupun di wilayah yang dilalui sungai kecil seperti sungai Lempuing dan sungai Mesuji. Wilayah yang dialiri sungai-sungai tersebut meliputi kecamatan Kayuagung, Sirah Pulau Padang, Jejawi, Pampangan, Tanjung Raja, Rantau Alai, Inderalaya, Pemulutan dan Muara Kuang. Sedangkan potensi budidaya kolam terdapat hampir di semua kecamatan di kabupaten OKI. Namun demikian, penggunaan sistem kolam relatif kurang populer karena menurut keterangan pembudidaya investasi pembuatan kolam lebih mahal dibanding dengan investasi sistem karamba atau fence. Budidaya mina padi ditemukan di wilayah irigasi teknis terutama di kecamatan Lempuing. Sistem fence baru berkembang sejak tahun 2001 di kecamatan Tanjung Batu dan sistem ini berpotensi untuk dikembangkan di seluruh kecamatan karena kabupaten OKI merupakan wilayah rawa-rawa banjiran di musim penghujan.

Berdasarkan data Dinas Perikanan, Kelautan dan Peternakan (DPKP) kabupaten OKI tahun 2002, luas potensi wilayah pengembangan ikan patin adalah 11.662 ha, namun pemanfaatannya saat ini masih relatif kecil, yaitu hanya 15,94 ha atau 0,14%, sebagaimana terlihat pada tabel berikut.

Tabel 1. Potensi dan pemanfaatan lahan ikan patin di kabupaten OKI

Sistem budidaya
Potensi (ha)
Pemanfaatan (ha)
1. Karamba
112,47
5,96
2. Karamba jaring apung
25,58
8,98
3. Sistem fence
11.528,23
1,00
Jumlah
11.662,28
15,94
Sumber : DPKP Kabupaten OKI, 2002

Dari ketiga sistem budidaya tersebut, pemanfaatan lahan untuk sistem fence masih kurang dari 1% dibanding dengan potensinya, sedangkan sistem karamba jaring apung telah mencapai 35,11% dan karamba 5,30% dari potensi lahan. Dari jumlah rumah tangga perikanan budidaya sebanyak 27.778 Rumah Tangga Perikanan (RTP), sebanyak 9.836 RTP atau 35,41% adalah RTP budidaya ikan patin, dimana 98,13% dari jumlah RTP ikan patin adalah RTP yang memelihara ikan patin di karamba dan karamba jaring apung.

Walaupun dalam budidaya ikan patin dikenal lebih dari 2 sistem, namun dalam buku ini hanya dibahas 2 sistem budidaya yaitu sistem karamba jaring apung (untuk selanjutnya disebut karamba) dan sistem fence dengan pembahasan terutama pada aspek pasar dan pemasaran, teknis produksi, dan keuangan. Pada aspek keuangan untuk menganalisis kelayakan proyek digunakan kriteria Net Present Value (NPV), Net Benefit/Cost (Net B/C) rasio, Internal Rate of Return (IRR), Pay Back Period (PBP) dan Break Even Point (BEP).