haramkah menikahi wanita berzina

"Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik;dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki yang musyrik, dan yang  demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin". (QS An-Nur [24]:3) 

tentang HARAMKAH MENIKAHI WANITA YG PERNAH BERZINA?

Terdapat perbedaan ulama memahami ayat tersebut: (Lihat Rawa'ul Bayan Tafsir Ayat al-Ahkam {Bhs Arab}, karya Muhammad Ali ash-Shobuny, Makkah Mukarramah:  Fakultas Syariah, Jilid II, hal. 49 dst, tth). 

1. Sahabat Ali, al-Bara', Aisyah dan Ibn Mas'ud MENGHARAMKAN menikahi wanita yg berzina dg dasar:

(A) ARTI AYAT tersebut di atas, walaupun bersifat khabar (berita) tetapi berarti perintah "haram menikahi wanita yg berzina ". (Logikanya, juga haram menikah dg lelaki yg berzina, karena al-Quran tdklah memihak kpd kaum laki-laki saja. Sebab-sebab turunnya ayat tsb berkaitan dg para laki-laki kaum Muhajirin/orang-orang Makkah yg berhijrah bersama Nabi (yg hidupnya miskin) yg berniat menikahi para "wanita kota Madinah penjaja sex" yg ekonominya lumayan baik/kaya, kemudian turunlah ayat 3 surat an-Nur tsb yg melarang "menikahi mereka".(Lihat Hasyiyah Tafsir Jalalain, Kitab Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul {Bhs Arab}, Karya Imam Jalal as-Suyuthy, Beirut: Dar al-Fikr, hal 254, 199).

(B) Keharaman dalam ayat tsb tertuju pada "Haram Menikahinya".  

2. Sahabat Abu Bakar, Umar, Ibn Abbas dan Empat Imam Ulama Mujtahid (Imam Malik, Abu Hanifah, Syafi'i dan Ahmad bin Hambal) MEMPERBOLEHKAN menikahi wanita yg telah berzina (dan telah bertobat tentunya) dengan dasar:

(A) AYAT 3 SURAT AN-NUR TSB TELAH DINASKH (DIHAPUS HUKUMNYA SHG HILANG KEHARAMANNYA)  dengan ayat 32 SURAT AN-NUR: "Nikahkanlah orang-orang yg  masih sendirian di antara kalian, dan orang-orang yg layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu...." (Lihat Hasyiyah Tafsir Jalalain, Kitab Ma'rifatun Nasikh wa al-Mansukh {Bhs Arab}, Beirut: Dar al-Fikr, hal. 199, 1991).  

(B) Keharaman dalam ayat tsb bersifat "mencela" sehingga larangan tsb tertuju pada "MAKRUH MENIKAHINYA"

(C) Hadits Shohih riwayat Abu Daud, an-Nasai dan Malik, diceritakan: Sorang laki-laki mendatangi Rasulullah menanyakan perihal isterinya yg tdk menolak ajakan orang lain untuk berbuat mesum. Rasulullah bersabda: "Cerailah dia!" Lelaki tsb menjawab: "Tetapi aku masih mencintainya". Rasulullah menjawab: "Kalau demikian tak usah kamu cerai. Peliharalah dia sebagai isterimu lagi".  

 (D) Hadits Shohih riwayat Abu Daud, an-Nasai dan Malik, diceritakan: Sorang laki-laki mendatangi Rasulullah menanyakan perihal isterinya yg tdk menolak ajakan orang lain untuk berbuat mesum. Rasulullah bersabda: "Cerailah dia!" Lelaki tsb menjawab: "Tetapi aku masih mencintainya". Rasulullah menjawab: "Kalau demikian tak usah kamu cerai. Peliharalah dia sebagai isterimu lagi". Jumhur ulama (kebanyakan ulama di dunia Islam) mendukung pendapat "TIDAK HARAM MENIKAHI" wanita yg pernah berzina, tetapi mereka harus bertobat nashuha, bertobat dengan tobat yg sebenar-benarnya . (Lihat Rawai'ul Bayan Tafsir Ayat Ahkam, karya Muhammad ali ash-Shobuny di atas).

Dengan dasar tsb, menikahi wanita yg pernah berzina terlebih lagi sudah bertobat dengan sungguh-sungguh, hukumnya tdk haram melainkan makruh. Allah Maha Pengasih lagi Maha Pengampun.

1