dinar dan diham

Mata uang emas dan perak atau dinar dan dirham rasanya bukan barang yang lazim di zaman ini. Namun, akhir-akhir ini ada sejumlah negara yang telah dan mulai mempertimbangkan meng-gunakan uang jenis itu. Apa sih kelebihannya dibandingkan dengan uang kertas?Dinar emas dan dirham perak boleh jadi membawa fantasi Anda ke kisah "Seribu Satu Malam". Terbayangkan saat rombongan perompak di bawah pimpinan Abu Hasan memanggul berkarung-karung harta karun rampasan memasuki sarang penyamun. Ketika isi karung-karung itu dituang, terdengarlah gerincing emas dan perak serta beragam perhiasan lain saling beradu. Sementara mata si Ali Baba tak berkedip menyaksikan semua itu dari balik persembunyiannya. Kini, di zaman milenium ketiga ini, koin-koin emas dan perak yang telah lama terkubur sejarah hidup kembali. Benarkah?

Anda benar. Koin-koin dinar emas dan dirham perak memang telah kembali, juga di tengah-tengah kita, Indonesia. Dinar adalah koin emas 22 karat seberat 4,25 g, sedangkan dirham adalah koin perak murni seberat 3 g, masing-masing berdiameter 23 dan 25 mm. Spesifikasi teknis dinar dan dirham ini sama dengan spesifikasi dinar dan dirham klasik, sebagaimana dibakukan oleh khalifah ketiga sesudah Nabi Muhammad SAW wafat, yakni Khalifah Umar bin Khatab. Selama tiga tahun terakhir ini gemerincing dinar dan dirham makin nyaring terdengar di negeri kita, terutama di kota-kota Jakarta, Bandung, Medan, Yogya, dan Surabaya.

Mengapa dan dirham "bangkit kembali" dari kuburnya?

Umur dinar dan dirham Umur dinar dan dirham sendiri sesungguhnya sama tuanya dengan peradaban manusia. Al Maqrizi, ekonom Muslim yang pernah menjabat sebagai muhtasib atau pengawas pasar di zaman dinasti Mamluk sekitar abad ke-14 Masehi di Mesir, menyatakan, orang yang pertama kali mencetak dinar dan dirham adalah Nabi Adam AS. Keterangan ini dapat kita temukan dalam kitab Maqrizi yang amat masyhur, Ighathat al-ummah bi-kashf al-ghummah, atau Menolong Bangsa dengan Melihat Pencetus Persoalannya, yang ditulisnya pada Muharam 808 Hijriah atau 1405 Masehi. Isinya adalah hasil analisis Maqrizi atas sebab-musabab kejatuhan dinasti Mamluk. Dalam bukunya, Maqrizi dengan jelas menyalahkan penguasa ketika itu yang menerbitkan fulus, mata uang dari tembaga, sebagai penyebab utama penderitaan rakyat - yang akhirnya menjatuhkan dinasti Mamluk. Dengan terbitnya fulus terjadilah inflasi besar-besaran, yang mengakibatkan kemiskinan rakyat. Suatu peristiwa yang amat mirip dengan "krismon" yang kita alami pada 1997.

Kita ingat, akibat krismon ketika itu nilai tukar rupiah terhadap dolar AS merosot total, dari sekitar Rp 2.000,- menjadi Rp 15.000,- per dolar AS. Akibatnya, harga barang-barang melonjak 3 - 4 kali lipat. Pendapatan penduduk (Gross National Product - GNP) kita yang semula telah mencapai di atas AS $ 1.000 kembali terbanting ke angka di bawah AS $ 400 per kapita. Angka kemiskinan yang semula tinggal sekitar 15% melonjak ke angka 60%. Kita tahu pula, pemerintahan Orde Baru pun, seperti dinasti Mamluk pada zamannya, kemudian jatuh dari takhta karenanya.  Muslihat uang kertas  Kembalinya dinar emas dan dirham perak, yakni mata uang riil yang terbuat dari bahan bernilai intrinsik dan bukan sekadar kertas tak berharga yang diberi nilai nominal oleh suatu negara - yang hampir bersamaan dengan fenomena krismon di berbagai negara bukanlah suatu kebetulan. Upaya ini merupakan tindakan konkret atas kritik sistem uang kertas yang bermasalah dan tidak adil. Coba renungkan fakta ini.

Pada awal 1970-an harga setongkol jagung Rp 5,-, sedangkan saat ini - 30 tahun kemudian - setongkol jagung yang sama harus kita bayar dengan uang sebesar Rp 1.000,-. Artinya, barang yang sama harus kita bayar dengan harga 200 kali lipat dalam kurun waktu tersebut, atau nilai rupiah kita melorot tinggal 1/200 nilai semula. Apakah persoalannya karena mata uang kita, yakni rupiah, yang terus melorot nilainya?  Jawabnya: bukan. Yang jadi sumber persoalan atas kenaikan harga barang-barang, atau penurunan nilai mata uang, bukan karena rupiahnya, melainkan karena sistemnya, yakni uang kertas. Coba perhatikan nasib yang sama yang dialami oleh dolar Amerika, yang merupakan mata uang terkuat di dunia saat ini. Pada kurun yang sama nilainya juga merosot drastis. Ambil patokan waktu yang sama, yakni awal 1970-an, nilai tukar dolar AS terhadap emas adalah AS $ 35 untuk setiap ounce (31 g), atau AS $ 1,1 per gram. Hari ini nilai tukar dolar AS terhadap emas adalah AS $ 350 untuk setiap 31 g emas, atau AS $ 11,3 per gram. Artinya, nilai dolar AS dalam kurun 30 tahun melorot tinggal kurang dari 1/10 nilai semula. Jadi, dalam hal kemerosotan nilai, rupiah dan dolar, serta mata uang kertas lain apa pun, setali tiga uang. Dengan berjalannya waktu uang-uang itu selalu kehilangan nilai. Akibatnya, kita semua dirugikan. Hasil jerih payah cucuran keringat dan kerja keras

kita, mengumpulkan harta dengan cara menabung setiap kali terkikis begitu saja. Berlawanan dengan peribahasa yang kita kenal sejak kecil, sedikit demi sedikit pengumpulan harta yang kita peroleh secara sah itu tidak pernah menjadi bukit. Inilah muslihat uang kertas!

Uang fiktif

Uang kertas adalah kertas dengan gambar tertentu yang nilai nominalnya ditentukan oleh negara lewat keputusan politik. Kita sebagai warganegara, kemudian dipaksa untuk mengakui nilainya dan menggunakannya sebagai alat tukar uang karena undang-undang. "Barang siapa meniru, memalsukan, atau menolak uang tersebut", lantas dianggap melawan negara. Sebaliknya, negara - dengan kekuasaan politik dan hukumnya - berhak untuk terus mencetak dan mengedarkan, dan menentukan nilai, berapa pun yang negara (baca: para politisi dan birokrat negara) suka. Maka, apa yang terjadi? Kekayaan kita sebagai warganegara, atau bahkan sebagai manusia, yang bekerja keras untuk mendapatkannya, hakikatnya  ditentukan oleh negara. Secara semena-mena kekayaan itu dirampas secara terus-menerus, dari waktu ke waktu. Tentu, tidak dikatakan negara yang merampas kekayaan tersebut, melainkan inflasi! Dalam keadaan-keadaan tertentu, ketika negara menghadapi masalah kritis, dengan mudah perampasan itu dilakukan dengan mendadak dan drastis: melalui devaluasi atau sanering. Ingat kisah ketika Rp 1.000,- "digunting" menjadi Rp 1,- di zaman pemerintahan Presiden Soekarno dulu?

Kemungkinan lain, meski negara tidak melakukannya secara langsung dalam bentuk devaluasi atau sanering, di zaman "globalisasi" ini, perampasan kekayaan secara drastis dan semena-mena dapat dilakukan oleh "pasar". Inilah yang kita alami dalam krismon 1997. Kita semua, kecuali segelintir orang, miskin mendadak. Para ekonom akan menyebutkan inflasi atau, dilihat dari segi nilai tukar mata uang atas barang-barang, adalah depresiasi uang kertas sebagai biang keladi. Namun, para ekonom itu tidak pernah menjelaskan yang sebenarnya terjadi, yakni pangkal persoalannya berada pada sistem uang kertas yang penuh muslihat itu.Untuk memahaminya secara lebih baik, kita harus mulai dengan mengerti cara kerja sistem finansial modern. Sistem finansial saat ini ditopang oleh segi tiga uang kertas, bunga, dan kredit (utang). Dalam sistem ini terjadilah sewa-menyewa uang, di satu sisi, dan penciptaan uang tanpa batas di lain sisi. Institusi yang membuat semua itu terjadi adalah perbankan. Simak cara kerja bank berikut ini. Pasangan tak terpisahkan dari bank adalah bunga. Dua faktor ini memungkinkan penciptaan uang lewat utang Tanpa bank dan bunga, bila A meminjamkan kepada B sebesar Rp 100 juta, maka uang A berpindah tangan kepada B dengan jumlah yang tetap. Namun, dengan bank dan bunga, uang yang sama bukan saja berpindah tangan, tetapi juga "berputar", hingga jumlahnya berlipat ganda.

Katakanlah Bank C menerima uang Rp 100 juta dari A, dan membukukannya dalam buku rekening. Bank C akan meminjamkan kepada nasabah D sebesar Rp 90 juta, karena Rp 10 juta harus ditahan sebagai cadangan, yang kemudian mendepositkannya di Bank E. Maka, bank E memiliki uang sebesar Rp 90 juta itu, sementara dalam buku Bank A tetap tercatat uang yang Rp 100 juta. Selanjutnya, Bank E dapat meminjamkannya kepada nasabahnya sebesar Rp 81 juta. Demikian seterusnya. Dalam satu putaran ini saja, terakumulasi uang sebesar Rp 271 juta, sedangkan uang asalnya hanya Rp 100 juta. Artinya, Rp 171 juta adalah uang fiktif. Apa akibatnya? Inflasi, yang artinya depresiasi uang (kertas).

Perbankan melakukan semua itu dengan tujuan memperoleh bunga pada piutang tersebut. Bagi bank uang nasabah adalah liabilities karena bank harus membayarkan bunga atasnya. Karena itu bank akan terus mengutang-utangkan uang yang ada padanya, dan dengan cara begitu penciptaan uang pun terus terjadi. Adalah keniscayaan, kalau terjadi rush - para nasabah mengambil uang pada saat yang sama - terjadi keruntuhan bank (uangnya memang tidak ada!). Sementara itu dampak dari penciptaan uang yang terus-menerus ini adalah inflasi yang juga terus-menerus. Secara teknis istilah inflasi ini diberi arti "kenaikan harga barang-barang". Padahal, kualitas dan kuantitas suatu barang dari waktu ke waktu tidak berubah. Setongkol jagung atau seekor ayam sepanjang zaman tetaplah setongkol jagung dan seekor ayam. Ini membuktikan, yang bermasalah bukanlah nilai barang itu melainkan nilai uang kertas yang digunakan sebagai alat tukarnya. Sama halnya dengan yang terjadi pada saat penguasa terakhir Mamluk menerbitkan fulus, uang tak berharga dari tembaga: terjadilah inflasi.

Bebas inflasi

Berbeda dari uang kertas, uang emas dan perak alias dinar dan dirham, terbebas dari inflasi. Nilai tukar emas dan perak, sebagai benda niaga, ditentukan oleh keseimbangan pasokan dan permintaan di pasar. Tidak ada monopoli oleh satu pihak (dalam hal ini Bank Sentral) dalam pemasokan uang. Nilai mata uang menjadi independen dari pengaruh tindakan Bank Sentral ini sehingga sistem moneter akan apolitik. Karena itu, sebagaimana bukti sejarah, dinar dan dirham memberikan kestabilan dan mempertahankan nilai relatif tetap. Harga seekor ayam di zaman Nabi Muhammad adalah 1 dirham, harga ayam sekarang di Eropa tetap 1 dirham (setara Rp 11.500,-). Harga sepotong jas yang bagus di zaman Osmaniah yaitu 5 dinar, harga sepotong jas mewah sekarang pun 5 dinar (setara sekitar Rp 2 juta). Harga seekor kambing di zaman Nabi Muhammad adalah 1 dinar, harga seekor kambing di Indonesia sekarang ini adalah 1 dinar (setara Rp 425.000,-). Inflasi dinar dan dirham, dalam kurun 15 abad ini, praktis adalah 0%.  Dinar dan dirham adalah komoditas, dan sekaligus sebagai mata uang, yang memiliki nilai intrinsik. Maka penerimaannya tidak harus atas dasar hukum dan keputusan politik, melainkan kesepakatan. Karenanya, meski masih dalam skala yang kecil, dinar dan dirham telah dipakai oleh sejumlah komunitas di Afrika Selatan, Malaysia, Inggris, dan puluhan negara lainnya. Setiap hari pemakai dinar dan dirham di Indonesia pun terus bertambah, dengan sejumlah wakala (money changer) beroperasi penuh di Jakarta, Medan, dan Bandung.

Zaim Saidi, pengelola Lembaga Studi dan Implementasi

Ekonomi Alternatif, Adina, di Jakarta M

1