bila si dia tak kunjung melamar

SULIT memutuskan kapan akan menikah? Bingung karena sang pacar tak juga mau melangkah lebih jauh? Lalu, mesti bagaimana? Perlukah dia ditunggu terus atau pindah ke lain hati saja? Mengapa kekasih Anda tak juga melamar?

Benarkah si dia termasuk makhluk yang takut berkomitmen?

Untuk bisa mengakhiri masa lajang, bisa dilalui dengan mengenali fase-fase hubungan cinta, yang terdiri dari fase tertarik secara fisik, fase saling mempelajari, dan fase berkomitmen. Gampangnya, mereka yang pacaran pasti sudah lewat fase pertama dan mungkin sedang beranjak ke fase kedua. Pada fase kedua ini, pria dan wanita saling belajar akan persamaan dan perbedaan yang ada di antara mereka berdua. Bila kedua hal itu dianggap tak bermasalah, barulah fase ketiga  dijalani. Yang berhasil, ya, jalan terus ke mahligai perkawinan, sedangkan yang gagal, biasanya lalu putus hubungan.  

Bila ada pria yang belum juga melamar, mungkin mereka sedang dalam fase kedua ini, yaitu mempelajari segala sifat, karakter, dan segala hal akan pasangannya. Jadi, wanita tak perlu keburu cemas bahwa pacarnya cuma main-main saja. Bila di fase ketiga pacar Anda tak juga melamar, barulah Anda boleh bertanya-tanya. Seorang sarjana psikologi dari di Bandung, Rostiani, S.Psi., mengindikasikan adanya lima penyebab bila si dia tak juga berani berkomitmen.

1. Ia belum siap secara finansial dan merasa belum mapan.

2. Ia ragu terhadap Anda. Tanpa sadar, mungkin Andalah "biang keladi" yang membuat pacar Anda ragu akan kesungguhan Anda. Mungkin ia melihat Anda masih senang "bermain-main", mungkin ia mengira Anda jenis yang mengasyikkan buat diajak kencan, tetapi belum tentu oke buat dijadikan istri, dan webagainya.

3. Bisa jadi dia memang mencintai Anda, tetapi karena belum pas, ia mengulur waktu untuk menentukan pilihan akhir. Wanita pun sering berpikir hal yang sama di saat harus menentukan pilihan, apakah harus menolak atau menerima lamaran seorang pria.

 4. Bisa juga karena perbedaan persepsi perkawinan. Si dia enggan melamar, soalnya setiap kali bicara serius tentang perkawinan, ternyata dia dan Anda tidak "satu bahasa", misalnya, bagi Anda perkawinan adalah sesuatu yang sakral mesti direstui orang tua, mesti diresmikan dengan berbagai adat dan tata cara, sedangkan ia penganut paham sebaliknya.

5. Mungkin juga ia dihinggapi trauma. Bisa jadi si pria takut menikah karena perkawinan orang tuanya gagal, perkawinan sahabat atau kerabat terdekat yang gagal, atau ia sendiri pernah mengalaminya.

Mungkin pacar Anda termasuk yang memberi alasan seperti di atas. Namun, apa pun masalahnya, usahakan agar pasangan mengomunikasikannya. Misalnya, bila ia mengajukan soal ekonomi yang belum mapan sebagai penyebab, bicarakan dengan sabar bahwa Anda bersedia hidup dalam "gubuk derita". Anda mau ikut patungan mencicil rumah dan sebagainya. Bersikaplah lebih realistis dan matang untuk menunjukkan bahwa Anda sudah siap menikah. Tiga penyebab lain agak sulit diatasi. Bila terjadi perbedaan persepsi perkawinan, misalnya, Anda mungkin perlu sedikit "tarik urat leher". Anda maupun dia perlu membicarakan hal-hal mana yang masih bisa ditawar dan mana yang merupakan harga mati. Kalau tak menemukan titik temu, sebaiknya tinggalkan saja dia.

Bila ternyata pacar Anda tidak berniat menikahi Anda (ini biasanya sudah terlihat pada fase kedua), sedangkan ia tak juga memutuskan hubungan, Anda diharap lebih aktif. Tanyakan mengapa dia selalu menarik diri bila perbincangan tentang menikah dimulai. "Kalau kemudian ia mengaku cuma ingin fun atau merasa Anda tidak memenuhi kriteria istri versi dia. Ya, sudah, stop saja." Yang paling sulit yaitu bila penyebabnya adalah trauma. Anda tak mungkin menjadi "dokter cinta" baginya. Kata Rostiana, kalau Anda tidak terlalu cinta, lebih baik dia tak usah ditunggu. Sebagai usaha, carikanlah contoh-contoh pasangan lain yang berhasil hidup bahagia walau pernah mengalami trauma sebelumnya.

      **

MENIKAH adalah proses pendewasaan. Dan untuk memasukinya diperlukan pelaku yang kuat dan berani. Berani menghadapi masalah yang akan terjadi dan punya kekuatan untuk menemukan jalan keluarnya.  Kedengarannya sih mudah dan indah, tetapi kenyataannya? Harus ada komunikasi dua arah, ada kerelaan mendengar kritik, ada keikhlasan meminta maaf, ketulusan melupakan kesalahan, dan keberanian untuk mengemukakan pendapat. Sekali lagi, menikah bukanlah upacara yang (harus selalu) diramaikan gending cinta, bukan rancangan gaun pengantin ala cinderella, apalagi rangkaian mobil undangan yang memacetkan jalan. Menikah adalah berani memutuskan untuk berlabuh ketika ribuan kapal pesiar yang gemerlap memanggil-manggil.       Menikah adalah proses pengenalan diri sendiri maupun pasangan Anda. Tanpa mengenali diri sendiri, bagaimana Anda bisa memahami orang lain? Tanpa bisa memerhatikan diri sendiri, bagaimana Anda bisa memerhatikan pasangan hidup. Menikah sangat membutuhkan keberanian tingkat tinggi, toleransi sedalam samudra, serta jiwa besar untuk menerima dan memaafkan.

 

1