agar allah tidak melupakan kita

Bismillahir rahmanir rahiem

Dalam usia dunia yang semakin tua ini, tidak disangsikan lagi bahwa setan2 yang ditangguhkan kematiannya menjadi sangat berpengetahuan dan sangat berpengalaman. Tidak hanya itu saja, alat2 bantu untuk menyesatkan manusia juga menjadi semakin banyak, semakin lengkap dan semakin canggih. Dan salah satu alat bantu mereka yang semakin berkembang adalah media massa yang diperuntukkan bagi tema2 yang tidak ada manfaatnya; termasuk di dalamnya adalah perbualan2 kosong dan gossip2.

Dalam usaha dakwah, tidak sedikit kita jumpai orang2 beriman yang terperosok dalam kubangan maksiat. Alhamdulillah, sebagian diantara mereka ada yang begitu mudah kita ingatkan sehingga dapat segera kita tarik kembali ke jalan Allah. Sebagian lagi memerlukan kesabaran ekstra untuk mendatangi, membujuk dan merangkul mereka. Adapun sisanya, kita serahkan kepada Allah (swt) karena Dia maha berencana dan maha berkendak atas kesudahan setiap orang dari mereka.

Dan diantara orang2 yang kembali ke jalan Allah, ada yang sebelumnya telah melakukan maksiat secara sembunyi2 dan ada juga yang melakukannya secara terang2-an. Keadaan mereka bermacam ragam. Diantara mereka ada yang sungkan dan ada pula yang dengan polos menceritakan maksiat2 yang telah dikerjakannya. Yang menggembirakan kita adalah bahwa keduanya mempunyai niat yang sama, yakni niat suci untuk memperbaiki diri mereka sendiri dari kerusakan2 yang terlanjur mereka lakukan.

Bukan satu perkara yang mudah bagi seseorang yang memiliki suatu kebiasaan buruk untuk meninggalkannya atau mengubahnya dalam sekejap. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang gagal setiap kali mereka berniat dan mencobanya. Dalam keadaan seperti itu (dimana dakwah telah sampai kepada lubuk hati mereka sementara mereka juga belum kuasa meninggalkan maksiat), maka mereka se-akan2 seperti orang2 yang memiliki standard ganda: di tempat2 para salihin mereka menjadi saleh dan di tempat2 maksiat mereka juga melakukannya.

Namun demikian, tidak seorangpun diantara kita yang berkelayakan untuk merendahkan mereka. Yang demikian adalah karena kita tidak mengetahui saat2 mereka menangis di hadapan Allah (swt) setiap kali mereka melakukan maksiat. Kita tidak mengetahui bagaimana dengan cara meng-hiba2 mereka mengakui kesalahan2, dosa2 dan ketidakmampuan mereka untuk meninggalkan maksiat. Dan lebih daripada itu adalah karena kita tidak mengetahui bagaimana rencana dan pola perbaikan yang akan Allah terapkan pada tiap orang yang dikehendaki-Nya.

Sesungguhnya, masih banyak urusan yang lebih bermanfaat, lebih tinggi nilainya dan lebih baik ganjarannya daripada sekadar membicarakan aib seseorang. Termasuk di dalamnya adalah membicarakan keburukan orang2 'lama' dalam kerja dakwah. Jika kita mendapatkan bahwa kualitas akhlak dan ikram orang2 ‘lama’ tak kunjung menjadi baik, sementara orang2 'baru' memperlihatkan progres yang bagus dan memperoleh perbaikan kualitas yang menawan, maka keadaan mereka yang demikian tetap tidak layak untuk dibicarakan.

Allah (swt) memberitahu kita dalam kitab-Nya, "Sesungguhnya ada segolongan dari hamba2-Ku yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah se-baik2 pemberi rahmat.’ Lalu kamu menjadikan mereka buah ejekan, sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku." (QS Al Mu'minun 23:109-110)

Maka benarlah firman Allah (swt) bahwa kesibukan kita dalam membicarakan kekurangan dan keburukan orang lain akan menjadikan kita lupa kepada-Nya. Yang demikian adalah karena hati kita laksana sebuah wadah. Jika sesuatu menempatinya, maka terkeluarlah yang lain darinya. Jelasnya, jika wadah ingatan kita dipenuhi oleh fikiran2 tentang aib saudara2 kita, maka bersemayamnya fikiran2 itu akan mencegah ingatan kepada Allah memasuki dan memenuhi relung2-nya.

Perkara melupakan Allah (swt) bukanlah perkara main2 dan bukan pula hal yang sepele. Yang demikian adalah karena orang2 yang lupa kepada Allah (swt) adalah seumpama orang2 munafik. Padahal tidak seorangpun yang memiliki predikat munafik kecuali dia yang mengaku dirinya muslim atau berserah diri kepada Allah (swt), sedangkan hatinya menolak apa yang dikatakan oleh lisannya tersebut. Dan sebagaimana informasi dari Allah (swt) sendiri, mereka yang munafik adalah orang2 yang telah lupa kepada-Nya.

"Orang2 munafik laki2 dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang mungkar dan melarang berbuat yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang2 munafik itulah orang2 yang fasik." (QS At Taubah 9:67)

Tidak seorangpun yang benar keimanannya kecuali dia merasa khawatir kalau2 Allah (swt) melupakan dirinya. Yang demikian adalah karena tidak ada kemalangan yang lebih besar selain Allah (swt) melupakannya. Dan dia merasa cemas dan takut jika Allah (swt) mengelompokkannya ke dalam golongan orang2 munafik. Yang demikian adalah karena tidak ada ancaman yang lebih dahsyat yang akan ditimpakan kepada orang2 munafik selain daripada neraka jahanam.

"Allah mengancam orang2 munafik laki2 dan perempuan dan orang2 kafir dengan neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka. Dan Allah melaknati mereka dan bagi mereka azab yang kekal." (QS At Taubah 9:67-68)

Karena itu, agar Allah (swt) tidak melupakan kita, maka meskipun sulit dilakukan, tetap saja kita harus mengusahakannya, yakni untuk tidak meng-olok2 dan tidak pula berbicara mengenai aib saudara2 kita. Tidak sekali dua kali, tetapi lagi dan lagi. Kita benci kepada gosip2 dan se-kali2 kita tak sudi untuk menyebarkannya. Kita tidak membicarakan keburukan orang2 'lama' dan kita tidak memperbincangkan kekurangan orang2 ‘baru’, khusunya dalam barisan pejuang2 agama. Dan jika kita terjebak ke dalam pembicaraan2 seperti itu, maka cara terbaik adalah dengan segera bangkit dan menyingkir darinya dengan cara yang sopan. Sungguh, ini jauh lebih baik buat kita, jika kita mengetahuinya.

Jika sudah demikian, maka Allah (swt) yang mengetahui niat kita, niscaya akan menolong kita untuk membersihkan hati kita dari prasangka2 yang jelek, buruk dan jahat. Dan apabila kita bersih dari hal2 seperti itu, maka kita memiliki sebagian dari perkara2 yang dikehendaki dan disukai-Nya. Sungguh, sebagaimana kebersihan dzahir, maka kebersihan hati adalah sebagian daripada iman yang sempurna. Subhanallah.


1